Relevansi Gramatika Bahasa Arab (Nahwu dan Shorof) dengan Tafsir

Hubungan Ilmu Nahwu dan Shorof dengan Tafsir
Inilah relevansi gramatika bahasa Arab (nahwu dan shorof) dengan tafsir. (Gambar: pedianusantara.com)

Contoh Peranan Gramatika Bahasa Arab dalam Menafsikan al-Qur’an

Salah satu contoh peranan ilmu Nahwu yang sangat dibutuhkan dalam menafsirkan al-Quran yaitu ketika menafsirkan ayat al-Quran surat al-Baqarah ayat 234 tentang masa iddah istri yang ditinggal wafat oleh sang suami.

Bacaan Lainnya

وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ اَزْوَاجًا يَّتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ اَرْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَّعَشْرًا ۚ فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا فَعَلْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. al-Baqarah: 234)

Penjelasan

Ayat di atas menjelaskan secara lahiriah bahwa masa iddah isteri (antara) yang ditinggal wafat oleh suaminya adalah empat bulan sepuluh malam. Kata bilangan yang digunakan adalah muzakkar (wa’ asyra) sehingga mumayyiznya harus muannats (laya’lin).

Menurut tata bahasa Arab ‘adad (bilangan) dalam kaitan muzakkar-muannats selalu digunakan berlawanan dengan ma’dud (yang dihitung), mulai dari hitungan tiga sampai sepuluh. Para ulama fikih berpendapat bahwa masa iddah isteri yang ditinggal wafat suaminya adalah empat bulan sepuluh hari dan bukan sepuluh malam.

Dari uraian di atas, tentu tidak disangsikan lagi bahwa nilai-nilai yang ada dalam bahasa Arab merupakan hal yang penting dalam mengkaji dan mendalami isi dan kandungan al-Quran, dan bahasa Arab mempunyai peran yang sangat besar dalam pemahaman teks- teks al-Quran dan pengenalan terhadap hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Pada akhirnya bahasa Arab sangat erat sekali hubungannya dengan al-Quran, nyaris dapat dipastikan bahwa tanpa kaidah bahasa Arab sangat sulit untuk memahami ayat-ayat al-Quran.

Berlangganan Update Artikel Terbaru di Telegram dan Google Berita.

Pos terkait