Desa Ganjaran: Sejarah, Prestasi, dan Asal Usul Nama

Desa Ganjaran: Sejarah, Prestasi, dan Asal Usul Nama
Desa Ganjaran: Sejarah, Prestasi, dan Asal Usul Nama. (Gambar: pedianusantara.com)

Ganjaran dan Pertemuan Bawah Jidor

Dulu, setelah menunaikan shalat Jumat, para sesepuh Desa Ganjaran sering berkumpul di masjid As-Syafiiyah. Biasanya tempat berkumpulnya berada di dekat jidor masjid. Karena itulah beberapa orang menyebutnya sebagai pertemuan bawah jidor.

Bacaan Lainnya

Dalam pertemuan itu, para sesepuh membahas banyak hal. Mulai dari pendidikan, pengelolaan masjid, koperasi masjid, dan bahkan Desa Ganjaran secara umum, serta salah satunya adalah pengajian ke kampung. Pengajian ke kampung ini merupakan salah satu peranan kiai-kiai di Desa Ganjaran saat itu. Di mana para kiai seolah memiliki tugas sendiri-sendiri.

Misalnya, KH. Bukhari lebih terfokus mengelola masjid As-Syafiiyah, KH. Yahya Syabrowi kepada pesantren dan madrasah, Mbah Munayat kebagian mengajak orang-orang abangan, sedangkan Mbah As’ad bertanggung jawab mengenai pengajian di mushola kampung. Dan tidak menutup peranan kiai-kiai lain yang tidak penulis ketahui.

Peranan pertemuan bawah jidor ini berdampak besar pada perkembangan Desa Ganjaran. Pertemuan ini bak sebuah motor perubahan bersama dengan peranan kiai-kiai lain. Secara perlahan, Desa Ganjaran yang awalnya dikenal banyak bajingan dan begal, akhirnya menjadi desa dengan banyak prestasi di berbagai bidang.

Pak Jamal berkisah bahwa sebelum kisaran tahun 1960-an, di Desa Ganjaran banyak orang-orang yang duduk di pinggir jalan bersarungkan celurit dan parang. Tak jarang, jika ada orang lewat membawa barang berharga, dia dicegat dan dirampas harta bendanya. Kebiasaan membawa celurit dan parang ini mulai surut saat Kiai Yahya dan Kiai As’ad gencar mengadakan pengajian ke kampung-kampung. Pengajian itu menjelaskan tentang dasar-dasar agama yang harus diketahui oleh seorang muslim, mulai dari tata cara wudhu dan shalat, hingga hal-hal yang berkenaan dengan etika dan tatakrama.

Selain itu, pergerakan G-30 S PKI menyebabkan pihak kepolisian bertindak mengamankan daerah-daerah dengan cara merampas senjata tajam dan memberlakukan surat izin memiliki senjata tajam, sehingga yang boleh membawa senjata tajam hanyalah perangkat-perangkat desa saja. Maka lambat-laun, kesadaran masyarakat pun mulai tumbuh dan di kemudian hari menjadi potensi besar yang membawa Desa Ganjaran menjadi desa teladan.

Dari situlah, peranan Mbah As’ad mulai ngaji di mushola-mushola di Desa Ganjaran berawal. Mulai dari mushola di Kampung Betoh Gudik, Ganjaran Selatan, Juban, dan lainnya, bahkan juga ke mushola di Desa Ketawang serta beberapa kali ke Masjid Jami Bululawang. Hal itulah yang kemudian membuat beliau dikenal di masyarakat sebagai Bindereh Arsin. Pengajian kampung ini lantas dilanjutkan oleh putrinya, Nyai Makhzunah. Beliaulah yang kemudian banyak berperan mendidik masyarakat Ganjaran, khususnya kaum hawa untuk menjadi pribadi muslimah yang baik melalui pengajian-pengajian kampung.

Demikianlah uraian tentang sejarah, prestasi dan asal usul penamaan Desa Ganjaran. Informasi ini kami peroleh dari hasil wawancara terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang ada di desa Ganjaran. Sebenarnya masih banyak kekurangan dari paparan di atas yang belum ditulis karena keterbatasan pengetahuan kami terhadap perihal tersebut.

Berlangganan Update Artikel Terbaru di Telegram dan Google Berita.

Pos terkait