PEDIANUSANTARA.com – Sebuah kesalahan kecil dalam pengucapan yang menghebohkan seluruh kota. Inilah yang terjadi di Madinah pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, ketika seorang Badui salah menafsirkan ayat Al-Quran karena satu huruf yang keliru.
Kisah ini bukan sekadar anekdot, tetapi merupakan salah satu sebab yang memicu lahirnya ilmu Nahwu. Bagaimana mungkin satu kesalahan kecil bisa memiliki dampak sebesar itu, dan mengapa Khalifah Umar mengambil tindakan drastis? Mari kita selami kisah yang mengubah sejarah ini!
Baca Juga: Al-Fiyah Ibnu Malik vs Al-Fiyah Ibnu Mu’thi: Mengapa Salah Satunya Lebih Unggul?
Pada suatu hari, datang seorang Badui ke Madinah.
la sangat penasaran seperti apa keindahan al-Quran yang sering diperbincangkan banyak orang. Setiba di Madinah, si Badui ini langsung berteriak, “Siapa yang mau membacakan untukku kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad?”
Lalu majulah seorang laki-laki ke hadapan si Badui dan membacakan penggalan ayat dari Surat al Taubah:
أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَرَسُوْلِهِ
Artinya: Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasul-Nya.
“Oh, jika Allah berlepas diri dari rasul-Nya, maka aku juga akan berlepas diri dari rasul-Nya,” komentar si Badui setelah mendengar ayat yang dibaca salah itu.
Peristiwa ini menjadi berita besar dan menimbulkan kehebohan di mana-mana. Tak lama kemudian, berita ini sampai ke telinga Khalifah Umar bin Khaththab. Khalifah Umar langsung mengambil tindakan dengan memanggil si Badui.
“Apakah benar kau akan berlepas diri dari Rasulullah?” tanya Umar
Si Badui pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku datang ke Madinah untuk mendengar bacaan al-Quran. Lalu datanglah seorang laki-laki dan membacakan ayat dari Surat al-Taubah. Jika Allah berlepas diri dari Rasul-Nya, maka aku pun juga akan berlepas diri dari Rasul-Nya.” Mendengar penjelasan si Badui yang salah paham karena ia mendengar bacaan yang salah, Umar langsung mengerti situasinya.
“Bukan seperti itu bunyi ayatnya, wahai Badui,” tandas Umar.
“Lalu seperti apa yang benar, wahai Amirul Mukminin?” tanya si Badui.
Umar lalu membacakan ayat yang benar:
أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ
Artinya: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.
“Wah, kalau Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik, maka aku pun juga akan berlepas diri dari mereka,” kata si Badui.
Setelah peristiwa ini, Umar selalu mewanti-wanti agar yang membacakan al-Quran haruslah orang yang benar-benar mengerti bahasa Arab. Lalu Umar memerintahkan Abu al-Aswad al-Du’ali untuk menyusun ilmu nahwu.
update berita terbaru setiap hari




